Teknik-teknik Menganalisa Berita ataupun Peristiwa Politik

Beta berkesempatan bagi mengisi acara untuk kaderisasi seperti pendidikan dasar kepemimpinan pada sebuah organisasi tertentu. Tentu saja unsur ini sebagai tantangan terbelah, karena warna yang diangkat berkaitan dengan analisis strategi kontemporer. Tumpuan dari kesabaran ini adalah bagaimana getah perca peserta sanggup memiliki kebolehan menjadi seorang analis strategi yang tidak terperosok pada ketatanegaraan pragmatis. Pasti lah ini memerankan tantangan karena penulis menyadari kemampuan pribadi yang sedang belum cukup serta peralatan yang disampaikan merupakan peralatan yang menjulang dan sulit.



Berfikir Taktis

Berfikir strategis adalah berfikir pada teks-teks politis. Tidak sama dengan berfikir tentang teks-teks hukum, teks-teks sastra & teks-teks perenungan. Berfikir taktis merupakan macam kegiatan berfikir paling tinggi & paling sulit. Yang dimaksud paling tinggi sebab berfikir politis menuntut berfikir segala sesuatu dan peristiwa, sedangkan berifikir paling sukar adalah bahwa berfikir taktis tidak mempunyai kaidah alias patokan unik.

Agar saya dapat berfikir polits mengelokkan tidak ada syarat-syarat yang mesti dimiliki sebaiknya kita dapat berfikir taktis, antara unik:

1. Merasuk secara terus menerus seluruh petunjuk peristiwa yang terjadi ketika dunia serta mempertimbangkan berita yang benar2 harus tersua mata rantainya, misalnya, kasus amandemen keempat UUD 45 sejak 1999. Tentu saja aku harus menyidik sejak amandemen yang perdana hingga yang keempat.

2. Membutuhkan adanya pengetahuan-pengetahuan dahulu atau dasar tentang intisari berita misalnya pengetahuan tentang geografi, histori, ideologi, fikrah politik, dsb. Misalnya, disaat kita ingin memahami segalanya yang terjadi pada konflik di Palestina, tentu saja mesti memahami cerita, geografi serta ideologi di permasalahan ini.

3. Tidak melepaskan kasus atau pemberitahuan dari konteks-konteks situasi dan kondisinya, serta tidak menggeneralisasi atas peristiwa atau berita. Tidak mencopot peristiwa alias berita daripada konteks-konteks status dan kondisinya, misalnya petunjuk mengenai bantuan 50 juta dolar AMERIKA untuk menggempur terorisme dianggap bantuan yang saling mujur. Padahal tersebut sejalan pada program AS dalam “global on terrorism”. Sedangkan gak menggeneralisasi kejadian, misalnya mengopinikan “agama serupa sumber konflik” untuk pendapat dalam kasus yang berlangsung di Ambon, dan Israel - Palestina. Padahal ada masalah beda yaitu berkenaan dengan incaran politik serta ekonomi ketatanegaraan dari kapitalis.

4. Mengidentifikasikan peristiwa & kejadian pada cara memeriksanya secara teliti sehingga sanggup diketahui sumber berita, teritori terjadinya, tingkat kepercayaan cerita, dsb intinya pemeriksaan berdasar pada teliti. Contohnya, diisukan jika dalang kejadian peledakan WTC adalah Usamah bin Ladin, hal berikut tentu saja harus diteliti lebih jelas dan kian mendalam.



5. Mengaitkan tuturan dengan variasi informasi, bahkan informasi berbentuk berita-berita lainnya. Misalnya, sebuah berita ekonomi bisa dikaitkan dengan cerita politik. Ataupun bantuan USA ke Philipina sebanyak 55 jt dollar untuk menguasai terorisme domestic dikaitkan dengan berita ketetapan AS bahwa adanya http://rilis.id/ militan-militan di tempat-tempat yang mengkhawatirkan. Ternyata diindikasikan tempat-tempat yang mengkhawatirkan ityu berada ketika daerah Asia Pasifik. Termasuk Filipina & Indonesia.

Namun syarat-syarat pada atas bukan bisa dilepaskan dari prinsip berfikir seseorang yaitu berfikir secara sistemik dan ideologis. Apabila Penafsiran politik yang dibangun seseorang dengan benar maka mau melibatkannya di dalam proses perjuangan politik yang hakiki, yaitu dakwah. Secara menjadikan propaganda sebagai aksis kehidupan serta menjadikan Islam sebagai “The Way Of Life” hendak terbangun mengacu pada benar tentang kesadaran garis haluan.